Filed under rumah

Ketika Kita Masih Bersepeda

Lima ribu rupiah, atau tiga ribu rupiah jika kita sedang kekurangan uang, ditukar dengan seporsi siomay dengan rasa seadanya. Seringnya kita makan sepiring berdua, lebih sering lagi ketika akhir bulan, sebagai pengganti makan malam. Dan sebelum tidur, aku sudah lapar lagi. Continue reading »

Maaf untuk semuanya, Ibu..

Pagi tadi, tidak biasanya kudial nomor yang telah kuhafal di luar kepala itu di awal jam kerjaku. Nomor rumahku di kampung halaman itu kupencet dengan setengah ragu. Ada yang ingin kukatakan kepada Ibuku di sana, sesuatu yang tak biasa. “Halo, assalamu’alaykum… ibu ada?” “Oalah, arek cilik iki, sek yo tak celukno…”, kakak perempuanku menjawab di … Continue reading »

Kontrakan Baru

Kemarin, akhirnya saya menempati kontrakan baru di wilayah Jimbaran, Kuta Selatan. Rumah kontrakan baru ini bener-benar berwujud “rumah”, bukan “rumah petak” seperti kontrakan saya sebelumnya. Rumah dengan dua kamar, dapur dan kamar mandi masing-masing satu, serta sebuah ruang tamu merangkap ruang keluarga. Sedangkan rumah sebelumnya hanya berupa kamar kecil yang disekat menjadi 3 bagian, depan, … Continue reading »

Untukmu Leptopku

Kemarin sore menjelang maghrib, sepulang dari berbelanja sedikit kebutuhan bersama si Ummi dan putri-putri saya, kami mendapati rumah kontrakan kami sedang dilanda listrik padam. Dengan menahan dongkol sembari berusaha tetap ceria (biar gak berkurang pahala puasa Ramadhan nya) saya dan si Ummi pun menunggu buka. Untungnya gak terlalu lama si Ummi sadar untuk mengecek meteran … Continue reading »

Saya bukan “Susis”…

Waktu si Ummi pulang kampung bersama Rainbow dan Sunny, saya jadi sering otak atik fesbuk. Hal yang paling sering saya lakukan adalah menulis status “kangen” atau “sayang”, kebanyakan status itu bukan saya tujukan buat anak-anak, melainkan isteri saya, si Ummi. Dalam suatu status, seorang temen FB saya komen (kejadiannya udah amat sangat lama sekali). Inti … Continue reading »