Lompat ke isi

Kembalikan malu kami!!

Juni 28, 2010

Sebuah coretan sebal dari saya… :(

Ya, standar malu seorang muslim adalah malu kepada Alloh! Segala sesuatu yang mengkhianati kasih sayangNya dan RosulNya, pantaslah kita malu saat melakukannya. Tak perlu di hadapan orang, ketika sendiripun kita harusnya malu, sebab Ia Maha Tahu, Maha Mendengar…!

Dulu, waktu Blue Film masih berwujud cakram, saya masih SMP. Kawan-kawan pria saya yang bandel begitu malu jika koleksinya ketahuan sama yang gak “satu visi”. Koleksi hanya akan ditunjukkan ke teman, itu pun dengan sembunyi-sembunyi. Sedang kawan perempuan saya akan lari tunggang langgang jika melihat cover cakram padat terlarang itu.

Sekarang, lihatlah… ketika remaja, dewasa, laki-laki, dan perempuan, saling berbagi. Via bluetooth, flashdisk, atau menonton bersama. Lihatlah betapa video skandal tiba-tiba menjadi viral video… Tak ada malu, tak ada sungkan, semua menjadi satu visi… Berbagi rasa penasaran, tanpa merasa malu apalagi bersalah.

Oh iya, saya lupa, beberapa dewasa malah membaginya, kepada anak-anak. Katanya  80% dari bocah-bocah itu positif terinveksi viral video seks gak mutu.

Bukannya marah, sebagian yang lain berbondong-bondong mendukung sang pemeran adegan… “itu ntuk konsumsi pribadi”, kata mereka. Salahkan penyebarnya, salahkan media yang membuatnya menjadi viral. “Bukannya semuanya salah ya?”, tanya akal-akal yang masih sehat…

Malu, sebuah kata yang kata orang sukses harus dihilangkan dari kamus kehidupan. Benar memang, malu seringkali menjadi penghambat untuk sukses. Tidak pernah ada alasan untuk malu jika kita melakukan hal yang benar, begitu kata orang-orang. Namun masihkah mereka menganggap, yang mereka lakukan itu benar, sehingga tak perlu malu? Duh nurani, rupanya engkau berada di lembah tergelap hati yang pekat..

Malu itu punya standar, ini menurut saya. Standar malu yang ideal adalah malu kepada Alloh. Saat kita melakukan keburukan, kita malu kepada orang di sekitar kita. Saat kita melakukan kesalahan di hadapan keluarga, kita malu kepada keluarga. Namun jika kesalahan kita lakukan diam-diam tanpa ada seorangpun yang tahu, maka kepada siapa kita mau malu? Malulah kepada Alloh, bukankah Ia selalu mengawasi?

Standar malu telah terdegradasi. Sekarang seolah semua menjadi satu visi… menuju dunia bebas malu..

Utsman Bin Affan r.a, sahabat mulia itu sungguh pemalu. Ketika sahabat-sahabat lain berbincang dengan Rasulullah, Rasulullah begitu leluasa membiarkan betisnya tak tertutupi oleh jubah beliau. Namun segera ia tutup betisnya, saat Utsman akan datang, beliau tahu betapa pemalunya utsman, bahhkan melihat betis Rasulullah pun ia tak kan sanggup. Namun jangan tanya kesuksesannya membelanjakan hartanya di jalan Alloh… malunya sama sekali tak menutupi jalannya menyumbang logistik untuk seluruh Muslimin yang dilanda kelaparan.

Malu, dimana lagi tempatmu di negeri ini?

source gambar: disini

3 Komentar
  1. Ada pada dirimu dan orang-orang sepertimu. Tenang saja masih buanyak, kok… :)

    Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

  2. Aku link blogmu, riz… silakan dicek ya

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.