Lompat ke isi

Merancang “ending” kita…

Juni 26, 2010

Sebuah berita yang saya tonton di televisi kemarin mengabarkan tentang terbakarnya diskotik Redboxx di Surabaya, kampung halaman saya. Dan beberapa saat sebelum saya membuat tulisan ini, dari berita yang lain disebutkan korban kebakaran yang telah dipastikan berjumlah 9 orang, ditambah satu janin berusia 7 bulan yang keluar dari kandungan salah satu jasad yang terbakar.

Kesembilan jasad di dalam diskotik itu, secara tak sengaja memilih ending hidupnya, terbakar ataupun sesak nafas dalam sebuah tempat maksiat. Memang sesungguhnya hanya Alloh yang maha tahu nasib kesembilan orang itu, bukan hak saya untuk menghakimi akhir hidup mereka.

Namun kejadian terbakarnya diskotik ini, membuat saya tak bisa membayangkan, bagaimana bila saya yang berada di dalam diskotik itu, turut meregang nyawa bersama mereka. Saya tidak bisa membayangkan apa yang mungkin sedang saya lakukan di dalam diskotik itu, ketiba tiba-tiba kepungan asap datang sebagai pertanda Izroil bersedia membawa saya pergi dari jasad ini. Bahkan mungkin Izroil akan datang dengan wajah yang begitu menghukum – wajah yang sangat mengerikan – kepada saya…

Kengerian itu juga membawa saya kepada sebuah tragedi yang membekas di masyarakat Bali dan Indonesia, juga dunia. Ketika 202 orang meregang nyawa di Jalan Legian, bersama dengan bom yang meledak tiba-tiba di Paddy’s Pub. Saya ingat, kejadian itu juga membawa saya berandai-andai, bagaimana keadaan korban ledakan itu saat Izroil mencabut jiwa mereka. Apakah seketika mereka sadar akan dosa-dosa yang dilakukannya? Kesadaran yang sudah sangat terlambat…

Pernah saya berkunjung ke Legian selepas isya’ karena ingin tahu keadaan di sekitar kuta – saya belum pernah ke daerah legian sama sekali kala itu. Dan benarlah, tanpa membenarkan perbuatan meledakkan bom, saya tiba tiba menjadi mahfum ketika melihat bule-bule  berjoget di pinggir jalan dengan busana minim. “Pantaslah diBom…”, begitu yang terlintas di benak saya.

Sebuah akhir, seluruhnya ada di tangan kita, sungguh kita bisa memilih akhir kita.Alloh merahasiakan kematian dari kita, agar kita tak lengah.

Tengoklah Bal’am bin Ba’urah, seorang ulama besar di zaman Bani Israil. Bal’am adalah seorang alim yang pernah mencapai kedudukan tinggi di sisi Allah swt karena proses pensucian diri yang ia lakukan. Karena kesalihannya, ia dihormati orang banyak. Doa-doanya senantiasa diperkenankan Tuhan. Namanya masyhur di seluruh negeri. Reputasinya yang tinggi membuat Raja senang kepadanya dan memberikannya jabatan yang tinggi di pemerintahan. Suatu saat, ia disuruh Raja untuk mendoakan kaum Nabi Musa agar jatuh ke dalam kecelakaan dan Bal’am melakukannya.

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. Dia diikuti setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki , sesungguhnya kami tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu. Tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah. Perumpamaan mereka seperti anjing, jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf; 175-176)

Ayat di atas, menurut beberapa ulama, berkaitan dengan kisah Bal’am yang salah memilih akhir hidupnya.

Sungguh apalah kita dibandingkan dengan Bal’am sang ahli ibadah… Masihkah kita pede dengan amal yang kita lakukan? Jika Bal’am saja bisa su’ul khotimah, maka apakah kita yakin, bahwa dosa yang kita perbuat tak akan menghapus catatan amal kita seketika??

Saya dan anda, tidak pernah mengetahui kapan kita berpindah ke alam barzakh, berpisah dengan kerabat kita. Maka tak ada alasan bagi kita untuk lengah, sebab kita tak tahu, akankah kelengahan kita menjadi saat Izroil bagi untuk datang menjemput. Satu-satunya cara mendapatkan khusnul khotimah, adalah dengan selalu berada di jalannya yang lurus, entah dengan keimanan yang penuh, atau yang setengah…

Maka tak ada waktu untuk berpaling… sedikitpun. Bergaullah dengan orang sholeh, tinggallah bersama mereka, diamilah lingkungan yang menentramkan jiwa, … sebab mereka yang akan mengingatkan kita ketika kita berpaling. Bukankah domba yang sendiri lebih mudah diterkam serigala..?

اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
Allahummakhtim lanaa bil islaam, wakhtim lanaa bil imaan, wakhtim lanaa bihusnil khootimah
“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”

9 Komentar
  1. makasih pencerahannya bro :) salam kenal balik n linkmu aku pasng juga yak :)

  2. Allahummakhtim lanaa bil islaam, wakhtim lanaa bil imaan, wakhtim lanaa bihusnil khootimah
    “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”

    Amin Allahuma Amin

  3. Allahumma inna nas aluka iimanan kamila
    wa yaqiinan shodiqon wa qolban khosyi’an
    wa lisaanan dzaakiran
    Allahumma inna nas aluka taubatan nashuhaa,
    wa taubatan qoblal maut, warahmatan ‘indal maut,
    wa maghfiratan ba’dal maut
    Allahumma hawwin fii syakaratil maut,
    Allahumma inna nas aluka husnul khotimah
    wa na’uudzubika min suuil khotimah

    Ammin Allahumma Amiin

  4. Semoga saya dan tentunya Anda senantiasa diberi kekuatan untuk selalu berada dalam jalan yang lurus, amin….

    http://ditter.wordpress.com

  5. assalamualaiku..
    kadang pertanyaan seperti ini..sering bergema di kepala..
    “saat kematian menjemput..saya lagi apa ya..apa sudah selesai solat atau belum
    atau sedang sibuk dalam rutinitas kerja..dan menunda melaksanakan sholat..”
    (*Seperti detik ini..masih asyik blog walking dan blum solat isya..)
    thank yoou mas buat tulisannya..selalu butuh tulisan yang mengingatkan akan ALLAH…

  6. Wah ngeri juga yah mati di tempat kaya gitu…

  7. Jazakallah nasihatnya mas…
    tiada yang tahu bagaimana akhir kehidupan kita nanti, kecuali Allah..
    semoga Dia membrikan kita akhir hidup yang baik.

    Allohummaj’al khoiri ‘umrii aakhiroh
    wa khoiro ‘amalii khowaatimah
    wa khoiro ayyaamii yauma alqooka fiihi

    aamiin

  8. kullu nafsin dzaiqatul maut
    setiap yang bernyawa pasti merasakan mati

    “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”

    amin ya Rabbal ‘alamin…

    alhamdulillah singgah disini, banyak manfaat.

    salam kenal dan ukhuwah mas Rizky

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.