Musholla di belakang bar
Di tempat kerja saya yang baru, awalnya – dua bulan lalu – saya merasakan sebuah kehilangan. kehilangan akan suasana islami yang biasa saya dapati di tempat kerja lama saya di kota Barabai, ataupun yang biasa saya dapati di lingkungan kampus STAN beberapa bulan lalu ketika saya kuliah dalam rangka tugas belajar. Bagaimana tidak, ini Bali, dan lebih lagi, saya berada di negeri asing, sebuah terminal keberangkatan yang “gravitasi dunianya” begitu kuat.
Seperti kebanyakan bandara, terminal keberangkatan baik domestik ataupun Internasional selalu diisi dengan toko-toko yang menjajakan oleh-oleh dan barang-barang lainnya. Namun di keberangkatan internasional, biasanya barang-barang yang dijajakan juga berharga internasional/ irasional. Begitupun di tempat kerja saya, lorong-lorong terminal keberangkatan begitu terang benderang, diisi dengan toko-toko yang menjajakan barang-barang branded mulai dari tas jinjing, perhiasan, rokok, parfum, bahkan minuman keras, hampir semuanya branded. Juga tak lupa restoran dan toko-toko souvenir yang juga harga barangnya tak murah.
Jadilah tempat ini gemerlap, saya membayangkan suasana pusat perbelanjaan di luar negeri, mungkin seperti inilah rasanya. Barang-barang branded dan bule yang berlalu-lalang dengan busana yang beraneka ragam – bahkan diantaranya memakai busana seadanya. Untungnya sales dan para petugas bandaranya masih orang Indonesia, jika tidak, mungkin sudah benar-benar berasa di luar negeri.
Yang membedakan orang non-muslim dengan orang muslim dalam keseharian adalah sholat. Maka satu-satnya suasanya islami yang dapat saya temui di tempat kerja saya adalah musholla. Ada beberapa musholla di sini, bentuknya sederhana, hanya berupa ruangan persegi yang diletakkan di ujung lorong. Seperti layaknya di mall-mall di Indonesia, musholla jarang sekali diletakkan di tempat strategis. Namun satu musholla favorit saya adalah musholla yang terdapat di belakang Bar sebuah restoran.
Nampak beberapa lembar sajadah cokelat terhampar di bagian shaf pria, dan sedikit sajadah di shaf perempuan. Beberapa mushaf Al-Quran nampak rapi di atas meja. Di musholla itulah saya bertemu dengan sesama muslim yang bekerja di dalam terminal keberangkatan Internasional ini. Di musholla itu juga saya sering bertemu dengan WNA yang beragama islam.
Musholla kecil itu seolah menjadi kotak kecil “anti-kontaminasi” bagi saya dan muslim lain yang bekerja di sini. Saya benar-benar merasa di kampung saya sendiri di dalam musholla itu. Saya merasa beruntung, ketika sadar sebagian dari orang-orang yang lalu-lalang di bandara ini tidak mengenal islam, tidak sholat, sedangkan saya diberi nikmat berislam, saya masih bisa sholat bersama saudara-saudara muslim yang lain.Saya merasa beruntung, ketika bar di sebelah musholla itu mungkin sedang menyajikan sesuatu yang tak halal, sedang kami di sebelahnya masih bisa melakukan ibadah kami.
Hal lain yang membuat saya bahagia adalah ketika bertemu dengan warga negara asing yang sedang melakukan sholat di tempat ini. Betapa islam itu tak mengenal batas negara ataupun suku! Merenungkannya, menyadarkan saya, betapa dakwah islam tersebar begitu luasnya… Saya seperti bertemu dengan saudara yang begitu asing, namun satu tujuan, beribadah kepada Alloh.
Sekalipun saya melihat banyak perbedaan yang tak lazim dilakukan oleh muslim indonesia, seperti warga negara arab yang cuek saja sholat dengan menggunakan kaos tanpa lengan, ada juga turis arab yang dengan cueknya mengenakan bawahan mukena sebagai pengganti sarung, atau turis yang tetap memakai “khuf”/ sepatu nya ketika sholat di dalam musholla. Namun segala ketaklaziman itu menunjukkan betapa kayanya islam itu.
Pengalaman pertama seumur hidup yang belum pernah saya rasakan selain di mushola itu adalah menjadi imam bagi WNA. Saya adalah WNI, tuan rumah di sini, maka saya harus menjadi imam bagi tamu-tamu WNA itu. Bagi saya menjadi imam sholat bagi mereka itu luar biasa.
Musholla itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saya sekarang. Satu-satunya tempat yang paling teduh, di ujung lorong-lorong benderang, di belakang sebuah bar yang remang.
Subhanallah…
assalamu’alaikum …
^_^
subhanallah … paling tidak, musholla itu sudah menjadi sebuah oase di tengah gurun … ladang amal bagi musholla tersebut …
siiip…tetaplah istiqomah sahabat..
semangat!! sehat…dan sukses,,,
do the best…bismillah…
alhamdulillah, syukran atas penyemangatnya ..:)
semoga akan banyak orang yang sadar dengan adanya musholla tersebut…..
tetap semangat
subhanallah…musholanya indah sekali yak…
tapi itulah indahnya islam..proud to be moslem..
kadang saya juga mengalami hal-hal seperti itu..
betapa kita kadang merasakan indah ny islam di sebuah musholla…
pernah satu ketika saya harus buka puasa di pinggir jalan..
dan ketika ingin menunaikan sholat magrib..di mesjid itu gak ada mukena buat perempuannya..
dan saya memutuskan bertanya pada salah seorang jamaah masjid tersebut.
dan mereka pun meminjamkan saya mukena..bahkan ngajak saya buka bersama sekalian..
padahal saya tidak menggunakan jilbab..saat itu saya hanya memakai celana jins dan baju kaos..
dan tidak tampak seperti orang baik..baik.
memang indah kok jadi muslim..
tapi usagi orang baik-baik kan? buktinya mau sholat… hehe…
waw sungguh menarik mas rizky
yang penting kita tetap istiqomah ya amiin
kunjunga perdana..
salam kenal mas…